Sangat membanggakan para pribumi ini, bravo Tekno Indonesia!
Syawaludin Ramatullah, Samratul Fuadi, Aslih Damaetri dan Dody Suhendra merupakan empat mahasiswa ITB yang mengharumkan Indonesia dalam kompetisi
robot internasional di Amerika Serikat pada 9-10 April 2011 lalu. Dua tahun mereka habiskan untuk menciptakan robot pemadam kebakaran yang dinobatkan
sebagai juara.
Syawaluddin menjelaskan riset robot ini dimulai sejak akhir 2008 dan menghabiskan dana riset hingga Rp60 juta. Sedangkan dana untuk membuat robot berkaki
enam seberat menghabiskan biaya Rp20 sampai 40 juta.
“Biaya membangun robot yang hitam menghabiskan biaya Rp20 juta sedangkan yang merah Rp40 juta. Yang merah memang lebih mahal karena kualitas perangkatnya
lebih bagus,” ucap Syawaluddin, di Bandung, Kamis, 14 April 2011.
Kedua robot ini menggunakan prosesor Atmell sebagai micro controller atau ‘otak’ dari robot tersebut. Program-program seperti gerakan dimasukkan ke dalam
prosesor tersebut.
Robot-robot ini menggunakan prinsip kelelawar untuk bergerak. Untuk sensor gerak, kedua robot tersebut memancarkan suara ultrasonik, pantulan dari suara
tersebut akan diolah robot untuk mengukur jarak ruangan agar tidak menabrak.
Sedangkan untuk melacak sumber api, kedua robot tersebut dipasang sensor ultraviolet dan infrared masing-masing sebanyak lima buah. Sedangkan untuk engsel
kaki bergerak, kedua robot menggunakan motor servo yang diimpor dari Singapura.
"Motor servo itu satunya mencapai Rp1,1 juta. Sedikitnya satu robot membutuhkan 22 motor servo untuk bergerak dan sebagiannya untuk cadangan. untuk motor
servonya saja sudah sekitar Rp22 juta sendiri," jelas Syawaluddin.
Kusprasapta Mutijarsa, pembimbing tim robot Indonesia menjelaskan, kedua robot tersebut harus diset ulang setibanya di Amerika. Perbedaan cuaca yang signifikan
antara Indonesia dengan Hartford, Connecticut, Amerika Serikat membuat sensor-sensor tersebut harus dioprek.
"Sewaktu tiba di Amerika, sensor sempat macet karena perbedaan suhu. Perbedaan suhu sedikit saja berpengaruh terhadap sensor robot untuk mencari sumber
api. Untuk itu selama dua hari waktu sebelum bertanding kami melakukan setting ulang terhadap sensor dan melakukan latihan di kamar hotel," ungkap pria
yang biasa disapa Sony ini.
Samratul Fuadi, mahasiswa lain dalam tim robot ITB mengaku, setibanya di Amerika Serikat, mereka sempat minder melihat robot-robot yang menjadi pesaingnya
dalam kontes tersebut. Fuadi bahkan melihat kontingen dari Portugal membuat robot unik yang menggunakan iPhone sebagai prosesor dan sensornya.
"Robotnya unik dan canggih karena menggunakan iPhone tapi ternyata saat bertanding gagal menjalankan misinya. Kelebihan robot kami lebih cepat berjalan
dan bergerak presisi, mungkin karena risetnya selama dua tahun," ucap Fuadi.
Zarqun, merupakan robot generasi ketiga sedangkan Yaqun merupakan robot generasi keempat yang khusus dibuat untuk mewakili Indonesia di kontes tersebut.
Sumber: VIVAnews.com



Riqo ZHI







Posted in: 
2 komentar:
Idenya kreatif, menggunakan robot pemadam kebakaran untuk menggantikan manusia, karena kalau menggunakan manusia sebagai pemadam kebakarannya bisa mengakibatkan korban jiwa. Semoga teknologi robot Indonesia bisa menyamai Jepang atau Amerika suatu hari nanti.
Wah sayang motor servonya masih mahal banget, kalau bikin 10 robot harganya juga sudah lumayan
Post a Comment
Blog ini dofollow, silahkan tinggalkan komentar untuk meningkatkan PageRank, tapi berkomentarlah dengan tertip dan sopan, agar komentar kamu bisa tampil dengan nyaman :)