16 March 2011

Rahasia Pesawat Naas

Pesawat boing 737 yang kunaiki, dengan sukses telah tinggal landas dari Bandara Internasional Sukarno Hata. Para penumpang yang sedari tadi tegang kini telah mengendurkan sabuk pengaman masing-masing. Memang mimilih pesawat yang kunaiki ini bukanlah ide yang bagus, mengingat perusahaan penerbangan ini termasuk nominasi perusahaan penerbangan terburuk di negri ini, baik dari kualitas kepegawaian, maupun pasilitas penerbangan. Tapi yang menarik, perusahaan ini mengenakan biaya yang sangat murah dan memberikan jaminan asuransi jiwa yang sangat besar. Bayangkan, perjalanan dari Jakarta ke Bangka hanya dikenakan biaya 200 ribu Rupiah, sedangkan jaminan asuransi mencapai 200 juta Rupiah. Hal ini yang membuat perusahaan ini menjadi besar dan berkembang sampai saat ini.

Suasana semakin mencair saat para pramugari yang semampai mulai membagikan air mineral. Ini dapat dimaklumi, karena semakin minim biaya yang dikeluarkan, semakin minim juga pasilitas yang didapatkan. Jangankan mendapat makan besar, makanan kecilpun tidak ada. Hanya diberikan segelas air mineral yang tak jelas perusahaan apa yang memproduksinya.

Aku masih mengamati sekeliling, sampai mataku terhenti saat kulihat seorang lelaki paru baya yang duduk di dekat jendela di sebelah kiriku. Caranya menyeruput air yang tergesah-gesah dan mimik wajahnya yang serius, menandakan kalau dia sedang gugup dan takut. Sekilas ini wajar, mungkin saja dia termasuk orang yang baru sekali ini bepergian menggunakan pesawat terbang. Tetapi kurasa ketakutannya lebih dari menaiki benda yang terbang beribu kaki di atas permukaan laut, tapi lebih dari itu. Kerutan dan cucuran keringat di dahinya terus mengalir, seolah-olah dia berada di ruangan yang berudara lembab dan panas. Padahal pendingin di kabin pesawat ini cukup dingin hingga membuatku enggan membuka jaket yang kukenakan.

"Maaf, anda tidak apa-apa?" Tanyaku sopan kepadanya sembari mengambil majalah yang ada di kantung kursi di depanku.
Sepintas dia tak bergeming, tapi kulihat air mukanya beruba menandakan dia mendengarkan ucapanku.
Dia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalahnya sedikit dan menoleh ke daratan yang sekarang mulai membiru.
Dari gerak-geriknya, pria di sebalahku terlihat seperti orang yang memiliki beban hidup yang cukup berat. Dari pandangannya yang kosong, terlihat dia sedang berpikir keras dan merencanakan sesuatu yang besar. Busananya yang sopan dan sederhana, tercermin kalau dia juga berasal dari kalangan menengah sepertiku.

Menit demi menit telah berlalu, kini pandangan hanya terfokus pada warna biru. Sesekali gumpalan awan memberi kesan abu-abu.
"Kita sudah berada di mana?" Tanyanya seraya menoleh cepat ke arahku.
Aku sempat terkejut, apa lagi ketika kulihat matanya yang hitam pekat mengarah tepat ke mataku.
"Mungkin sudah mengarah ke Laut Cina Selatan?" Jawabku ragu-ragu.

Lelaki itu semakin membuatku penasaran, apalagi setelah kulihat matanya yang tadi kosong seolah-olah bersinar dan menyunggingkan senyuman yang penuh arti.
Kini dia menegakkan tempat duduknya, dan menyilangkan kedua lengan di depan dadanya yang kurus. Lama kuamati senyum itu terus mengembang dan sorot matanya yang hitam pekat semakin tajam seoalah menantikan sesuatu yang sedari tadi ditunggunya.

"Permisi saya ingin ke kamar kecil." Dia berdiri dan dengan begitu saja melewati bangkuku dan bangku wanita di sebelah kananku. terlihat wanita di sebelah kananku terganggu dan dengan enggan memiringkan kedua kakinya yang terbuka. Kalau saja lelaki itu tidak sedikit terpeleset, aku tidak akan sadar bahwa dia ternyata sedikit cacat. Makin kuamati, ternyata kakinya pendek sebelah sehingga dia berjalan agak terpincang menuju ke bagian belakang pesawat.

Cukup lama waktu berlalu, lelaki itu belum juga menduduki bangkunya yang kosong. Karena aku ingin melihat pemandangan Laut Cina Selatan, aku berpinda ke dekat jendela dan menduduki bangku lelaki tadi.

Pandangan mataku mulai kabur, saat kusadari cuaca mulai memburuk. Awan-awan hitam kian menebal dan gelegar halilintar menyambar-nyambar seolah ingin menghancurkan benda melayang yang kunaiki. Hayalanku terpecah saat terdengar suara dari interkom dan tanda kenakan sabuk pengaman dinyalakan. Aku tidak mengerti, mengapa ditengah-tengah cuaca seperti ini pesawat ini hanya berputar-putar ditengah laut yang terlihat makin mengganas, seperti kehilangan arah dan kendali.

Aku sudah tak bisa mendengar suara peringatan dari interkom, karena mataku mulai berkunang-kunang dan rasa mual di lambungku semakin tak tertahankan. Aku hanya sempat melihat lelaki tadi berdiri terhuyung dan ditarik oleh seorang pramugara yang mengacungkan telpon genggam yang masih menyala ke depan rekannya sambil berkata, "Dia menggunakan ini" tepat saat pesawat menukik tajam ke tengah laut lepas.

***

Ratih Subejo sedang duduk santai di depan sebuah rumah sederhana sembari membolak-balik tabloit wanita yang menutupi setengah wajahnya. Walaupun dia terlihat membaca, tapi pikirannya tak tertuju kepada barisan-barisan hitam yang terhampar di depan wajahnya. Dia masih memutar kembali apa yang dialaminya beberapa menit yang lalu, saat petugas dari Perusahaan Asuransi Jiwa Abadi menghubunginya.

"Kami dari Perusahaan Asuransi Jiwa Abadi, apakah saya berbicara dengan nyonya Ratih Subejo?"
"Ya betul dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
"Sebentar lagi petugas kami akan meluncur ke kediaman anda dan akan menjelaskan semuanya."

"Asuransi jiwa? apa yang mereka inginkan dariku?" Itu yang sedari tadi dipertanyakan dalam kendali pikirannya.

Untuk wanita sepertinya, tak pernah terpikir untuk menjadi anggota asuransi. Selain tak ada yang bisa diasuransikan, iuran yang diwajibkan semakin menambah beban bagi wanita sederhana, yang memiliki tiga anak yang masih kecil, serta suami yang hanya bekerja paruh waktu dan cacat tubuh. Kesulitan ekonomi inilah yang membuat dia jarang berada dirumah dan terkadang bertengkar dengan suaminya.
Seperti seminggu yang lalu, dia bertengkar saat suaminya meminta uang tiga ratus ribu dan pergi begitu saja keluar rumah dan belum kembali sampai saat ini.

Dia langsung menegakkan kepalanya saat dia melihat seorang pria yang cukup rapih memasuki halaman rumahnya. Tak perlu diyakinkan lagi, dia langsung mempersilahkan pria itu memasuki ruang tamu yang terlihat rapih dan sederhana.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan memecah kecanggungan.
"Kami dari Perusahaan Asuransi Jiwa Abadi, salah satu perusahaan asuransi yang bekerja sama dengan Perusahaan Penerbangan Z Air. Seperti yang sering diberitakan media ahir-ahir ini, salah satu pesawat dari Perusahaan Penerbangan Z Air mengalami kecelakaan."
Ratih masih menyimak dengan baik, walaupun dia belum yakin benar dengan apa yang sedang dibicarakan.
"Terus apa hubungannya dengan saya?" tanya Ratih agak kebingungan.
"Seperti yang mungkin ibu ketahui," dia melanjutkan, "Suami anda berada pada pesawat naas itu dan menjadi salah satu korban jiwa"
Ratih mulai memahami dan seketika air mukanya berubah. Dia baru sadar apa yang menyebabkan suaminya belum kembali sampai saat ini. Dan butir bening mulai mengaliri pipinya saat dia sadari pertemuannya seminggu yang lalu adalah pertemuannya yang terahir.
"Kami turut bela seungkawa yang sebesar-besarnya, atas musibah yang ditimpa oleh ibu sekeluarga. Dengan ini perusahaan kami membirikan uang asuransi senilai 200 juta rupiah, dan berkas ini harus ibu tanda tangani."
Lelaki itu meletakkan sebuah berkas dan sebuah amplop coklat di atas meja. Ratih memandang sesaat dan mulai mengambil berkas yang disodorkan. Perlahan dia menelusuri tulisan yang tertera, tapi air matanya mengaburkan pandangannya.
"Ini pulpennya" Ucap pria di depannya sembari memberikan pena perak yang berlebel Asuransi Jiwa Abadi.
Dengan gemetar Ratih mengambil dan menggoreskan tanda tangan di kolom berkas tersebut.
"Dengan ini tugas saya telah selesai, di dalam amplop ini terdapat cek senilai 200 juta rupiah, beserta surat wasiat yang diberikan suami anda sebelum mengudara." Pria itu berdiri dan dengan dingin menjabat tangan Ratih. Mungkin dia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, karena sudah berlusin rumah keluarga penumpang pesawat naas tersebut yang dikunjunginya.

Ratih masih terduduk, tanpa sadar bahwa dia telah sendirian di ruangan itu. Matanya hanya menatap tajam pada amplop coklat di atas meja dan perlahan dia menjulurkan tangannya, walaupun dengan pandangan dan pikiran kosong, perlahan dia membuka amplop coklat itu.
Dia mengeluarkan cek bertulis 200 juta Rupiah dan mengeluarkan sepucuk surat. Matanya hanya tertuju pada surat yang dengan erat di pegangnya. Perlahan dia membuka penutup amplop dan isak tangis mengiringi saat matanya menelusuri tulisan yang amat dikenalnya.

Asalamualaikum Ratih,

Mungkin saat membaca surat ini aku telah tiada dan aku harap kau dan anak-anak tabah menghadapinya. Semua ini harus terjadi, karena hanya dengan jalan inilah aku bisa lebih berarti di dalam keluarga kita. Aku sangat ingin membahagiakan keluarga dan ketika aku melihat iklan asuransi jiwa yang memberikan asuransi dalam jumla yang besar, aku pikir inilah peluang untuk mendapatkan uang yang dapat mencukupi kehidupan keluarga, walaupun harus dibayar dengan jiwaku. Dengan bermodal 300 ribu darimu dan sedikit tabunganku, aku membeli handphone dan terbang ke bangka. Aku pernah mendengar kalau mengaktifkan handphone dan menelpon di dalam pesawat terbang dapat mengganggu sistem navigasi dan dapat menyebabkan kecelakaan. Doakan aku! semoga aku berhasil.
Jika uang asuransi sudah diberikan, aku harap kau bisa menggunakannya dengan bijaksana, karena aku hanya memiliki satu nyawa. Maafkan aku, karena hanya inilah yang bisa aku lakukan.

Salam sayang buatmu dan anak-anak kita.

Subejo

The End

Baca juga :

  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • TwitThis

3 komentar:

obat herbal penyakit migren said...

ya ampun mengharukan sekali ..

obat herbal penyakitb insomnia said...

dg membyar 200 rbu mendapat 200 jta .. hehe

toko bunga semarang said...

Trenyuh aku..... pengorbanan yang sangat besar

Post a Comment

Blog ini dofollow, silahkan tinggalkan komentar untuk meningkatkan PageRank, tapi berkomentarlah dengan tertip dan sopan, agar komentar kamu bisa tampil dengan nyaman :)